#9 BROMO!

Sekitar bulan mei lalu, saya dan teman-teman merencanakan liburan ala backpacker ke Jawa Timur, tepatnya Bromo! Namanya juga backpacker, kami mencari alur berlibur dengan pengeluaran seminim mungkin. Jadi step pertama yaitu cari kereta ekonomi hehe. Rencananya kami akan menggunakan jalur Probolinggo, karena jalur ini banyak digunakan oleh para wisatawan khususnya backpacker.

The Day: Kami berkumpul di Stasiun Kiaracondong,Bandung untuk menumpangi kereta Kahuripan dengan tujuan Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Sengaja kami memilih transit di Lempuyangan, agar budget bisa disesuaika hehe kan kami backpacker :p Sampai di Lempuyangan, kami pun istirahat sambil menunggu kereta Sri Tanjung tujuan Probolinggo. Sekitar pukul 07.00 kereta berangkat dan sampai di Probolinggo sekitar pukul 16.00. Kami pun bergegas mencari angkutan tujuan terminal, sebenarnya angkot ini biasanya memberikan tarif Rp.3000,- tetapi si supir meminta Rp.5000,- karena ia bilang biasanya gak sampai terminal. Tapi kami gak peduli, kami kasih saja seadanya uang ongkos tanpa kami hitung terlebih dahulu. Di terminal, kami melanjutkan dengan angkutan yang bernama Bison. Angkutan ini semacam Elf kalau di Jawa Barat, dengan tarif Rp.35.000,- dari terminal sampai Cemoro Lawang. Setelah melewati jalan khas pegunungan kami pun tiba di Cemoro Lawang untuk menginap. Sebelumnya kami sudah booking penginapan, jadi sampai sana kami tinggal beristirahat saja. FYI, penginapan kami bernama Tengger Permai dengan harga per-kamar sekitar Rp.130.000,- / 4org. Memang disini minim fasilitas, tapi berhubung kondisi kami sangat lelah jadi kami menikmati saja. Sebelum tidur kami pun berkeliling sekitaran Cemoro Lawang menikmati suasana malam serta dinginnya kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

100_2460

1. Pananjakan I

Nah disini nih tempat paling famous kalo mau liat sunrise. Orang-orang bilang Sunrise Point nya Bromo, makanya disini disediain semacam view point gitu dengan kursi-kursi dengan urutan dari atas sampe bawah, udah kayak teather hall gitu deh tapi bedanya ini outdoor dan stage nya itu alam. Epic! Kalo mau kesini harus start dari dini hari terus jangan lupa booking jeep pada malam harinya. Harga tiket masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sekitar Rp.6000,- /org (kalo gak salah. lupa) pokoknya kita bakalan diajak ber-off road ria melewati padang pasir yang super gelap gulita, menembus kabut, dan menghantam debu! Sampai di Pananjakan, jika kondisinya sedang hari libur gitu siapkan diri kalian untuk berdesakan berebut tempat yang paling cozy untuk liat pemandangan dan sunset. Pokoknya kudu dateng dini hari supaya dapet tempat yang asik buat nikmatin the best sunrise in the worldDSC_0066100_2471DSC_0102DSC_0096IMG_20130510_062115

2. Puncak Bromo

Beres liat sunrise, driver jeep akan membawa kita turun kebawah. Diperjalanan kembali kita diajak off-road gitu sama si driver, asik banget pokoknya kita bakal terbanting-banting didalam jeep akibat dari medan jalan yang off-road-able banget. Dijalan juga terlihat panorama sekeliling pegunungan dan yang paling mencolok itu adanya Gunung Batok dan Gunung Bromo itu sendiri. Sampai di terminal jeep ditengah padang pasir, kami berjalan kaki melewati padang pasir untuk menuju Puncak Bromo. Disini nih cobaan paling berat, soalnya kita bakalan disuguhin debu dari kuda-kuda yang berlalu lalang dan jaraknya itu loh seakan dekat tapi ternyata jauh! Udah gitu makin lama makin nanjak, dan akhirnya sampailah di cobaan paling berat yaitu, anak tangga bromo! Sekedar tips, kalo mau naik kuda pas si tukang kuda mencoba membuka harga, kita pura-pura jaim aja biar doi ngikutin kita terus, nah biasanya si tukang kuda suka nurunin harganya tuh 😀

IMG_20130510_074337DSC_0119100_2500IMG_20130510_073921DSC_0139100_2510DSC_0131

3. Padang Savana / Bukit Telletubies

This is one of some epic place in bromo! Yap, Bukit Telletubies. Kenapa dinamain ini? Karena kalo dari kejauhan sama kayak di acara Telletubies gitu panoramanya. Wah pokoknya indah banget deh disini. Beres dari Puncak Bromo, kami pun menuju tempat ini. perjalan sekitar 15 menit dan kami kembali diajak ber-off-road ria lagi sama si driver. Sampai di Padang Savana, kami pun beristirahat di celah bukit untuk menghindari sinar matahari. FYI, di kawasan bromo ini minim pohon, ya sama lah kayak di gurun atau savana pada umumnya bakalan jarang nemuin pohon. Tapi jangan khawatir, di Padang Savana ini masyarakat Tengger ada yang membuka warung gitu untuk dapat kita gunakan beristirahat.100_2530100_2577

4. Pasir Berbisik

Oke, last destination in Bromo is Pasir Berbisik. Disini kami seakan berada ditengah-tengah gurun pasir! Karena yang dapat kami lihat ialah pasir, pasir, dan pasir lagi. Saya lupa asal usul nama Pasir Berbisik dari mana, tapi yang jelas pasir disini gak bisa ngebisikin kalian kok hehe.100_2584100_2588100_2591

#8 Jogjakarta

Setahun yang lalu, saya dengan teman-teman kampus mengadakan backpackeran gitu ke Jogja. Tapi berhubung gak dapet tiket kereta ekonomi jadi ya gagal deh backpackerannya. Barang bawaan sih masih pake backpack, cuma cara hidupnya diluar dari pengertian backpacker sebenernya hehe.

Sekitar pukul 04.30 kami sampai di Stasiun Tugu, lalu kami beristirahat dan shalat subuh sebelum melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 05.30 kami melanjutkan perjalanan untuk segera menuju penginapan yang sebelumnya sudah di booking. Penginapan kami letaknya tidak dekat dengan pusat keramaian Kota Jogjakarta, melainkan sedikit berada dipinggir yaitu tepatnya disebelah Rumah Sakit Umum Daerah Yogyakarta (kalau gak salah) hehe. Tips bagi yang ingin backpacker-an di Jogja, carilah penginapan disekitar jalan Sosrowijayan didekat Malioboro deh, disana banyak penginapan murah udah gitu akses kemana-mana mudah.

Sampai di penginapan, kami menyimpan barang bawaan serta bersiap untuk melanjutkan kegiatan wisata kami dengan tujuan pertama yaitu, melihat merapi.

1. Kaliurang

Untungnya ada Trans Jogja yang memudahkan orang-orang seperti kami yang masih kurang mengenal Jogjakarta. Perjalanan dari penginapan cukup dengan menggunakan Trans Jogja, kemudian kami turun di perempatan di Ring Road Utara untuk berganti kendaraan yang akan mengantar kami ke Kaliurang. Kendaraan yang kami tumpangi semacam bus 3/4 dengan tarif Rp.10.000,- Sesampainya di Kaliurang, kita langsung ngubek-ngubek tempat makan disini, karena memang waktu makan siang sudah lewat. Beres makan, kita lanjut deh menuju tempat dimana kita bisa ngeliat gunung merapi. Sebelum berangkat ya foto-foto duluuuuSAM_4998SAM_5004

Ternyata perjalanan untuk melihat merapi itu harus naik bukit gitu, dan jalannya setapak! Diluar bayangan banget, tapi namanya juga traveler tahan banting ya kami fine-fine aja. Di pintu masuk kawasan ini banyak monyet-monyet gitu, memang masih asri banget lingkungan disini.SAM_5008

Masih banyak banget tumbuhan yang hijau disini, tapi beberapa ada yang hangus gitu bekas letusan merapi beberapa tahun yang lalu. Jalan yang kami lalui juga di beberapa titik banyak yang keluar dari rute yang sebenernya, hal ini dikarenakan jalanan tertutup pohon tumbang serta longsoran gitu akibat letusan gunung merapi yang menewaskan juru kunci merapi, yaitu Mbah Marijan. h

Jalanan disini bisa dibilang setapak dan vegetasi lumayan rapat, jadi buat kalian yang akan kesini disarankan menggunakan pakaian dan sepatu yang nyaman deh. Sekitar 20 menit mendaki, sampai-lah kami di puncak bukit dan akhirnya apa yang kami cari menampakan diri.. Gunung Merapi! Walaupun jaraknya gak terlalu dekat tapi indahnya gunung merapi susah diucapkan dengan kata-kata. Capek juga terbayar deh kalo udah sampe sini, pokoknya gak nyesel.SAM_5035SAM_5034

2. Angkringan Malioboro

Beres dari Kaliurang kami pun bergegas ke penginapan lagi untuk mandi dan beristirahat. Sehabis waktu magrib kami pun berangkat kembali mencari makan dan akhirnya kami sepakat untuk makan di kawasan Malioboro. Suasana makan disini gak ada dua deh, rame banget dan yang paling penting tetep nyaman. Pokoknya masalah kenyamanan Jogja paling juara deh. Beres makan gak lupa kita mencicipi minuman khas Jogjakarta, yaitu Kopi Joss! Sebenernya dari segi rasa gak jauh beda sama kopi-kopi hitam pada umumnya, tapi yang ngebedain sensasi leburan arang panas ketika masuk ke dalam gelas kopi.. JOSS!!!

SAM_5102SAM_5073SAM_5125SAM_5135

3. Pantai Parangtritis

Day 3, sebenernya kita rencananya bakalan ke pantai yang berada di daerah Gunung Kidul berhubung waktu yang amat sangat terbatas jadinya kami sepakat untuk ke Pantai Parangtritis. Waktu tempuhnya gak lama banget dari pusat kota ke parangtritis, tapi berasa lama diperjalanan karena kami sempat satu kali beristirahat untuk membeli jajanan disalah satu minimarket disisi jalan. Oh iya, sebelum dari parangtritis kami menyempatkan diri membeli pakaian yang sejenis untuk lucu-lucuan aja hehe. Saran bagi yang akan ke parangtritis, makan dulu sebelum kesini karena anginnya lumayan bikin masuk angin! Sampai di parangtritis, kami menghabiskan waktu untuk berfoto-foto dan bermain air. Hari semakin sore, akhirnya saat yang ditunggu pun datang. Yap! Sunset. Keren banget deh sunsetnya, karena sama sekali gak ketutup awan jadi bisa dibilang perfect sunset hehe. Sekitar jam 18.30 kami pun meninggalkan pantai ini untuk mencari makan malam SAM_5172SAM_5185SAM_5203SAM_5330SAM_5291

4. Alun-Alun Selatan

Beres main di pantai, rencananya kami ingin mencicipi kuliner di salah satu tempat makan yang lagi digandrungi oleh masyarakat Jogja tapi sayangnya pas kami kesana ternyata kami mendapatkan waiting list hingga 3 jam! Akhirnya kami berkeliling untuk mencari makan, dan akhirnya kami sepakat untuk makan malam disekitaran Alun-Alun Selatan Jogja. Kami baru sadar bahwa kedatangan kami pas pada saat hari libur, sehingga kawasan ini terlihat sangat ramai. Banyak pengunjung yang mencoba peruntungannya di Pohon Kembar, banyak juga pengunjung yang berkeliling dengan sepeda yang menyala-nyala. Kami pun jadi penasaran sama sepeda tersebut, diujung jalan ada seseorang yang menawari sepeda menyalaSAM_5395 SAM_5396 SAM_5399

#7 Bukit Moko (Daweung)

Horeee deket nih, masih di Bandung tepatnya di bagian Bandung Utara. Oke, Moko adalah salah satu bukit di Bandung Utara yang menawarkan pemandangan Kota Bandung dari ketinggian. Dari sini pengunjung bisa melihat Kota Bandung dari ujung timur sampe ujung barat! Udah gitu dari sini juga bisa ngeliat sunset dan sunrise juga loh!

Pukul 04.00 saya bersama kedua rekan saya memulai perjalanan dari daerah Dago bawah menuju Bukit Moko ini. Destinasi ini biasa ditempuh dengan 2 pilihan jalur, yaitu jalur Dago Atas dan jalur Caringin Tilu. Kami pun memilih rute Dago Atas sebagai jalur berangkat, dan pulang melalui jalur Caringin Tilu supaya gak bosen juga selama diperjalanan. Perjalanan menuju Bukit Moko ini medannya bisa dibilang terjal, beberapa kali kami kesulitan pada saat menanjak, mungkin motor yang kami bawa gak cocok ya sama kontur jalan yang ekstrim. Pukul 05.00 kami pun sampai di warung tepat diatas Bukit Moko! FYI, di Bukit Moko ini ada sebuah warung kecil gitu, disini menjual beberapa menu makanan (mie instant, nasi goreng, dll) dan minuman hangat (kopi, susu, teh, dll). Jadi, jangan takut kelaperan deh kalau kesini.  Balik ke cerita, kondisi langit masih gelap gulita tetapi kami disuguhi pemandangan gemerlap lampu Kota Bandung yang super keren! Tapi sayang kami cuma bisa mengabadikan momen dengan kamera handphone.DSC_0085

Semakin pagi, kabut mulai menutupi pemandangan lampu-lampu dari Kota Bandung. Sampai akhirnya pun pagi mulai datang, yang rencananya kami kesini ingin melihat sunrise dari ketinggian, ternyata tertutup kabut tebal deh. DSC_0087DSC_0088

Walaupun sedikit kecewa, kami tetap menikmati pemandangan disini. Terlihat dari Moko, Kota Bandung tertutup awan tebal. Kami seakan-akan berdiri diatas lautan awan! Agak lebay, tapi beneran kok ternyata didekat Kota Bandung ada tempat yang seperti ini. Recommended banget bagi kalian yang mencari tempat dengan panorama alam serta panorama gemerlap kota yang gak jauh dari Bandung.DSC_0089DSC_0167_0DSC_0111_0DSC_0197

#6 Giri Tirta Kahuripan & Car Free Day Purwakarta

1. Giri Tirta Kahuripan

Liburan kali ini saya beserta teman-teman mengunjungi salah satu daerah disebelah utara Kota Bandung, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit jika melalui Jalan Tol Cipularang dan sekitar 1,5 Jam jika melalui jalur Lembang – Subang – Wanayasa.

Hari pertama saya dan teman-teman mengunjungi salah satu objek wisata yang masih terbilang baru di Purwakarta, yaitu Giri Tirta Kahuripan. Objek wisata yang terdiri dari Agrowisata, Kolam Renang, dan Resort ini dapat ditempuh melalui jalan ke arah Wanayasa, Purwakarta. Sesampainya di Objek Wisata ini, kami membeli tiket masuk agrowisata terlebih dahulu dengan harga tiket masuk Rp.25.000,- dengan fasilitas shuttle car untuk berkeliling kawasan agrowisata. Disini banyak yang bisa ditemui, seperti kandang-kandang hewan langka, perkebunan buah, kolam ikan. Selain itu banyak aktivitas yang bisa dilakukan disini, seperti Flying Fox, Sepeda Air, ATV, dan lain-lain. Sayang sekali kita tidak terlalu lama disini, karena langit sudah semakin gelap dan akan turun hujan.

DSC_0585

Ternyata benar, selang berapa menit turun hujan dengan intensitas lebat disertai dengan angin dan petir. Untungnya kami sudah turun dari shuttle. Selagi menunggu hujan, kami menikmati hidangan didalam restoran. Mestinya view dari sini terlihat bagus, berhubung kondisinya hujan dan berkabut jadi kami hanya melihat kolam renang saja.DSC_0612

Kolam renang dengan harga tiket masuk Rp.50.000,- ini menawarkan view dari ketinggian, dan memberikan sensasi renang seperti tanpa batas (infinite pool). Selesai hujan, kami pun langsung berganti pakaian dengan pakaian renang. Beruntungnya, pada saat kami berenang kondisi kolam sangat sepi dikarenakan pengunjung bergegas pulang mengingat sebelumnya hujan besar terjadi disini.

DSC_0639136887725977613688775097081368877498191

2. Car Free Day Purwakarta

Keesokan harinya, pada pagi hari kami bersepeda mengelilingi pusat kota Purwakarta berhubung setiap hari minggu, disini selalu diadakan Car Free Day (Hari Bebas Kendaraan). Pada saat kami kesini, ternyata kondisi jalanan sangat ramai dikarenakan Purwakarta mengadakan sepeda santai, dan pesertanya pun sangat banyak sehingga menutupi seluruh jalan. Kami pun mengalah, dan kami memisahkan diri ke depan Stasiun Purwakarta yang kondisinya sangat berbeda 180 derajat, disini sangat sepi dan kondusifDSC_0753DSC_0763DSC_0774

#5 Unknown Island (Near Merak Seaport)

Holla travelers..

Untuk kali ini saya dan teman-teman mengadakan short trip ke salah satu pulau di daerah Merak, Prov. Banten. Pada pagi hari saya berangkat dari rumah di Cilegon dengan menggunakan sepeda motor, perjalanan bisa dibilang relatif cepat sekitar 30 menit, karena kondisi jalan tidak terlalu ramai.Untuk mencapai pulau ini, kami menggunakan jasa perahu nelayan dengan tarif pulang-pergi Rp.10.000,- / orang. Karena pulau ini dekat dengan pelabuhan, jadi pemandangan yang disuguhkan sangat tidak biasa. Pulau kecil tak berpenghuni dengan air yang jernih, sesekali terdengar klakson kapal yang akan berangkat dan beberapa menit sekali kapal ferry melintas didepan kami, sungguh pemandangan yang unik.DSC_0062DSC_0067

Pulau tak berpenghuni ini ramai dikunjungi ketika sore hari. Banyak warga sekitar memanfaatkan pulau ini sebagai tempat melepas penat. Jika anda ingin berkunjung ke pulau ini, disarankan membawa perbekalan pribadi, karena pulau ini tidak berpenghuni. Hati-hati juga jika anda membawa makanan kesini karena jika lengah sedikit, monyet pencuri akan mengambil makanan anda dan menghilang kedalam semak belukar, sama seperti pengalaman saya, ketika saya tinggalkan plastik perbekalan untuk berkeliling pulau, pada saat kembali plastik kami sudah lenyap dan menyisakan botol minum yang masih di segel erat. Mungkin monyetnya belum bisa buka segel botol ya :p C360_2013-06-04-09-34-19-175_orgC360_2013-06-04-08-35-02-173_orgC360_2013-06-04-08-46-04-596_org

Pulau tak berpenghuni ini memiliki garis pantai yang beragam, dari bebatuan kecil, dinding karang setinggi 20cm – 50cm, dan pasir putih. Sayangnya, disekitar pulau ini banyak sampah berserakan, mungkin banyak pengunjung yang belum sadar wisata.C360_2013-06-04-08-46-14-136_orgC360_2013-06-04-09-12-09-538_orgDSC_0069

#4 Pendakian Gunung Pulosari, Kab. Pandeglang, Prov. Banten

Sebenernya salah penempatan juga nih konten ini, mestinya dipaling awal karena trip ini saya lakukan beres Ujian Nasional SMA 😀 Tapi gakpapa deh, ceritanya gini saya dan teman-teman dari pecinta alam SMA yang seangkatan mengadakan pendakian ke Gunung Pulosari di Pandeglang, Banten. Ketinggian gunungnya bisa dibilang gak tinggi, dan cenderung mudah di daki bagi pemula.

Perjalanan kami awali dari Cilegon dengan menggunakan kendaraan pribadiDSC01863

Sekitar 2 jam perjalanan, akhirnya kami pun sampai di pos pertama untuk Pendakian Gunung Pulosari, disini kita persiapkan apa saja yang akan dibawa keatas. Untungnya kita hanya One Day Trip, jadi gak perlu nge-camp dan gak perlu ribet-ribet juga bawa barang bawaan. DSC01879DSC01883

Perjalanan cukup menguras tenaga, kami sempat 3 kali berhenti untuk beristirahat. Pertama kami beristirahat di suatu tempat, semacam saung kecil gitu, lalu yang kedua kami beristirahat di Curug Putri untuk menikmati pemandangan serta sejenak melepas lelah, dan yang terakhir kami beristirahat di bebatuan yang besar, cukup untuk kami duduk ber-4. Akhirnya, setelah berjam-jam pendakian tiba-lah di Kawah Gunung Pulosari! Walaupun kami gak mendaki hingga puncak dikarenakan jalur pendakian longsor, tetapi kami cukup puas mendaki hingga kawah. Disana, kami melakukan banyak aktivitas, seperti makan bersama, merebus telur, hingga mencari reptil-reptil.DSC01975DSC01980

#3 Green Canyon & Batu Karas

Beres dari Kampung Naga, kami langsung check-in di salah satu hotel di kawasan Pantai Pangandaran untuk beristirahat. Keesokan harinya, kami mengadakan observasi serta jalan-jalan ke kawasan wisata Green Canyon. Green Canyon? Jadi gini, kenapa dinamain Green Canyon, karena kontur tanahnya kayak Grand Canyon yang ada di Amerika, tapi yang disini banyak pepohonan dan sejuk, makanya depannya pake nama Green. Tapi, sayang banget pada saat kami kesini, kondisi air sangat kotor dikarenakan pada pagi harinya hujan besar terjadi di hulu sungai. Overall, namanya juga tempat yang pertama kali dikunjungi, pastinya berkesan juga hehe. FYI, jarak Green Canyon dari Pantai Pangandaran gak terlalu jauh kok, sebenernya Pantai Pangandaran, Green Canyon, dan Batu Karas masih bisa dibilang satu area wisata karena jaraknya saling berdekatan. DSC_0082 DSC_0083 IMG_6105 IMG_6129

Green Canyon done! Kami langsung menuju ke Batu Karas. Lokasinya lumayan deket dari Green Canyon, cuma tetep aja harus pake kendaraan. Sampai di Batu Karas, kami langsung observasi disekitar Pantai Batukaras mengenai mata pencahariannya. Beres observasi, langsung renaaaaaang. Sebelumnya foto-foto dulu di Batu Karasnya nih..IMG_1766DSC_0156

Salah satu dosen ada yang bilang, kalau dibalik bukit ada pantai lagi yang lebih private dan lebih virgin! Yap, Batu Nunggul Beach. Memang untuk mencapai pantai ini kami harus melewati jalan setapak dan melalui bukit gitu, tapi gak tinggi kok dan gak jauh. Pokoknya buat kalian yang berwisata ke Pantai Batu Karas, jangan lupa mampir ke Batu Nunggul deh. Dijamin bikin tenang, karena sepi banget bahkan pas kita kesana gak ada siapa siapa yang mengunjungi pantai tersebut. PRIVATE BEAAAAAACHHH, WE’RE COMINNNNN’! ddIMG_6244IMG_6236IMG_6293

#2 Kampung Naga Tasikmalaya

Lagi-lagi tour dari kampus, sebenernya tour ini saya dan MPP 2011 berangkat ke 2 tujuan yang berbeda, yaitu Kampung Naga dan Pangandaran. Berhubung destinasinya menarik, mungkin dipisah aja kali ya, untuk Pangandaran dan sekitarnya diceritain di bagian #3 nanti 🙂

Okey, Kampung Naga adalah salah satu kampung adat yang saat ini masih terjaga kearifan budaya lokalnya. Kampung bisa dibilang berada ditengah-tengah antara Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya, lebih tepatnya berada di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Mungkin kalo ada yang mau kesana tapi bingung, bisa naik bus dari Garut pokoknya si Bus tersebut ke arah Tasikmalaya via Singaparna. Nanti bilang aja ke kondekturnya turun di Kampung Naga. Balik ke cerita, kampung ini berada di lembah perbukitan, lokasinya sangat asri udah gitu dibatasi langsung sama sungai Ciwulan.

Masyarakat Kampung Naga sangat menjaga kearifan budayanya yang diwariskan oleh leluhur mereka, tapi saya melihat Kampung Naga ini cenderung tidak terlalu menutup diri dari orang-orang yang berkunjung dari luar. Warga disini sangat welcome sama pendatang, kami pun disambut di suatu tempat semacam balai warga gitu, disana tokoh adat menjelaskan apa itu Kampung Naga, serta kebudayaannya dengan menggunakan bahasa sunda. Warga disini mencari nafkah membuah kerajinan tangan gitu, kemudian dijual wisatawan yang datang ke Kampung Naga. Selain membuat kerajinan, masyarakat juga membuat alat musik juga.dIMG_5815

Unik sekali jika dilihat dari atas, Kampung Naga yang berada di lembah perbukitan terlihat sangat tertata dan rumah-rumahnya sangat mempunyai identitas. Terlihat atap rumah-rumah yang masih sangat tradisional, dan rumah-rumah tersebut berjajar mengikuti kontur tanah yang berbukit.IMG_5810

Kalo mau main atau observasi disini, jangan takut deh kalo masalah makanan. Salah satu tokoh masyarakat disini bisa menyediakan makan siang dalam jumlah besar sekalipun! Kemarin kami dipersilahkan untuk mencoba salah satu rumah baru, yang sengaja dibuat oleh tokoh masyarakat untuk menerima tamu dan bisa juga dijadikan untuk tempat singgah wisatawan untuk makan siang. DSC_0047

Bisa dilihat, foto diatas pada saat kami selesai makan siang. Rumah ini terdiri dari 2 lantai, dan dari lantai atas kita bisa melihat pemandangan persawahan serta Kampung Naga dari ketinggian. Selain itu dirumah ini juga disediakan LCD TV gitu, walaupun ukurannya gak gede-gede banget cuma lumayan lah buat sebuah Kampung Adat hehe. Pokoknya harus coba berwisata ke Kampung Naga, dijamin gak akan nyesel dan banyak yang bisa dipelajari 🙂DSC_0047e